MBG Natuna Berdampak Nyata, SDN 001 Ranai Apresiasi SPPG Batu Hitam

Kepala SD Negeri 001 Ranai, Deni Iswanti, S.Pd.SD., mengapresiasi pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Natuna melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Batu Hitam yang dinilai memberikan dampak nyata bagi siswa, orang tua, dan guru.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang berjalan melalui SPPG Batu Hitam mendapat respons positif dari SD Negeri 001 Ranai. Program tersebut dinilai tidak hanya membantu pemenuhan gizi peserta didik, tetapi juga membawa perubahan terhadap aktivitas belajar siswa di sekolah.

Kepala SD Negeri 001 Ranai, Deni Iswanti, S.Pd.SD., mengatakan selama satu tahun berjalan, kehadiran SPPG Batu Hitam telah memberikan kontribusi besar dalam mendukung pemenuhan kebutuhan gizi anak-anak sekolah.

“Kami dari keluarga besar SD Negeri 001 Ranai mengucapkan selamat ulang tahun yang ke-1 kepada SPPG Batu Hitam. Terima kasih karena sudah mendampingi dan menjaga kecukupan gizi anak-anak didik kami selama setahun ini,” ujarnya kepada koranperbatasan.com melalui WhatsApp, Rabu (17/6/2026).

Deni menjelaskan, proses pendistribusian MBG dari SPPG Batu Hitam ke sekolah selama ini berjalan dengan sistem yang sudah terjadwal. Makanan dikirim menggunakan kendaraan khusus milik mitra program agar sampai dalam kondisi baik dan siap dikonsumsi siswa.

Menurutnya, karena SD Negeri 001 Ranai menerapkan sistem dua sif pembelajaran, proses pengantaran makanan dibagi menjadi dua trip atau gelombang waktu untuk menghindari penumpukan.

“Distribusi dibagi menjadi dua trip karena SD Negeri 001 Ranai ada dua sif. Setelah makanan datang, pihak sekolah menerima dan melakukan pengecekan jumlah ompreng sesuai dengan jumlah peserta didik,” jelasnya.

Setelah dilakukan pengecekan, makanan kemudian dibagikan kepada siswa berdasarkan daftar hadir kelompok atau kelas masing-masing untuk dikonsumsi bersama.

Usai kegiatan makan selesai, wadah atau ompreng dikumpulkan kembali untuk diserahkan kepada pihak terkait dalam pengelolaan selanjutnya.

Agar tidak mengganggu Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), pihak sekolah bersama SPPG juga telah mengatur waktu khusus pelaksanaan makan bersama.

“Biasanya untuk makan kami mengambil jam istirahat pertama selama 15 menit, yaitu pukul 09.00 WIB. Jadwal ini sudah disepakati dengan pihak SPPG agar jam pengantaran bisa disesuaikan dan MBG dapat dikonsumsi anak tepat waktu,” katanya.

Deni menyebut, kebijakan tersebut juga menjadi salah satu upaya sekolah untuk mengurangi kebiasaan siswa membeli jajanan di kantin.

“Ini kami lakukan untuk mengurangi anak-anak jajan di kantin sekolah. Karena jam segitu anak-anak sudah banyak yang lapar dan ingin jajan,” tambahnya.

Dalam mengantisipasi siswa yang memiliki alergi atau tidak dapat mengonsumsi makanan tertentu, pihak sekolah melakukan pendataan melalui guru kelas masing-masing.

Ia menilai, kerja sama antara guru dan orang tua sangat penting agar informasi terkait kondisi kesehatan anak dapat diketahui sejak awal.

“Perlu adanya kerja sama antara orang tua yang bisa memberi informasi jika ada anak yang tidak bisa mengonsumsi makanan dari MBG tersebut,” ujarnya.

Menurut Deni, sejauh ini terdapat beberapa siswa yang belum bisa mengonsumsi menu MBG karena kondisi tertentu. Namun, hal tersebut sudah dikomunikasikan antara orang tua dan guru kelas.

“Pihak sekolah mengantisipasi kepada anak yang tidak bisa makan MBG tersebut untuk membawa bekal dari rumah, agar saat temannya makan, dia juga bisa ikut makan,” terangnya.

Lebih lanjut, Deni mengakui keberadaan Program MBG memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap perkembangan siswa, terutama dalam kegiatan belajar di kelas.

“Sejauh ini manfaat program ini memiliki dampak yang signifikan, dilihat dari keaktifan anak berbeda dari sebelum adanya program MBG. Anak-anak terlihat lebih bersemangat dan tampak lebih ceria,” ungkapnya.

Tidak hanya kepada siswa, ia menyebut manfaat MBG juga dirasakan oleh orang tua dan tenaga pendidik di sekolah.

Menurutnya, sebagian orang tua siswa SD Negeri 001 Ranai berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah sehingga keberadaan MBG cukup membantu mengurangi pengeluaran keluarga.

“Dengan adanya program ini sangat membantu mengurangi ekonomi keluarga terutama uang jajan anak, yang biasanya membawa uang jajan bisa agak berkurang. Selain itu guru juga sudah mendapat manfaat MBG,” jelasnya.

Meski berjalan baik, Deni mengatakan evaluasi tetap dilakukan apabila terdapat kendala dalam pelaksanaan program, termasuk terkait keterlambatan pengantaran makanan.

“Sejauh ini jika ada temuan atau keterlambatan pengantaran, pihak sekolah melaporkan kepada PIC SPPG yang sudah ditentukan untuk ditinjau ulang dan dievaluasi kembali,” katanya.

Ia berharap komunikasi dan kerja sama antara pihak sekolah dengan SPPG Batu Hitam dapat terus berjalan sehingga manfaat program MBG semakin maksimal dirasakan siswa.

“Intinya selalu konfirmasi antara pihak sekolah dan SPPG agar pemenuhan MBG bisa dikonsumsi siswa dengan baik dan tidak ada masalah,” pungkasnya.

Toggle Dark Mode