SDN 001 Ranai Natuna Terapkan Ujian Digital dan Manual

Kepala SDN 001 Ranai, Deni Iswanti, S.Pd.SD., menjelaskan bahwa penggunaan dua metode tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan kemampuan serta kesiapan peserta didik pada setiap jenjang kelas.

Menurutnya, siswa kelas tinggi khususnya kelas V sudah mulai mengikuti ujian secara digital menggunakan perangkat teknologi. Sementara untuk kelas rendah, sekolah tetap mempertahankan sistem ujian manual menggunakan lembar soal berbasis kertas.

“Kami mengikuti aturan yang sudah ditetapkan dalam kalender pendidikan dan Surat Edaran dari Dinas Pendidikan bahwa pelaksanaan ujian dimulai tanggal 8. Untuk sistem pelaksanaannya, kami menggunakan dua metode yaitu ujian manual dan digital,” ujar Deni saat diwawancarai koranperbatasan.com di ruang kerjanya, Senin (8/6/2026).

Deni menerangkan, sebelum pelaksanaan ujian pihak sekolah telah membentuk panitia dan menyusun sistem pengawasan. Pengawas ujian diterapkan secara silang antar guru untuk menjaga objektivitas dan kelancaran proses ujian.

“Untuk pengawasnya kami buat sistem silang. Misalnya guru kelas A mengawas kelas B, begitu juga sebaliknya. Kalau bidang studi juga disesuaikan dengan guru bidang studinya masing-masing,” jelasnya.

Ia menambahkan, pelaksanaan ujian berlangsung selama satu minggu dengan jadwal dua mata pelajaran setiap harinya. Sistem pembagian waktu juga dilakukan dalam dua sesi, yakni pagi dan siang agar pelaksanaan ujian berjalan lebih maksimal.

Adapun mata pelajaran yang diujikan meliputi Pendidikan Agama Islam (PAI), Bahasa Indonesia, Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS), Seni Budaya dan Prakarya (SBDP), Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan (PJOK), serta beberapa mata pelajaran lainnya sesuai kurikulum.

Selain ujian tertulis, sekolah juga memberikan kesempatan remedial bagi siswa yang membutuhkan perbaikan nilai. Untuk kelas tinggi, pelaksanaan ujian praktik juga dilakukan sesuai kebutuhan masing-masing mata pelajaran.

“Kalau ada anak yang belum mencapai hasil maksimal, tetap kami lakukan remedial. Kemudian untuk kelas tinggi juga ada ujian praktik sesuai dengan kebutuhan mata pelajaran,” ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut, Deni juga menjelaskan penerapan mata pelajaran IPAS pada Kurikulum Merdeka. Menurutnya, konsep IPAS saat ini menggabungkan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) agar pemahaman siswa lebih menyeluruh.

Berbeda dengan kurikulum sebelumnya yang memisahkan IPA dan IPS, pendekatan baru ini mengajak siswa memahami sebuah fenomena melalui hubungan sebab-akibat antara alam dan kehidupan sosial masyarakat.

“Contohnya ketika siswa belajar tentang alam sekitar, seperti air yang mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah. Dari fenomena alam itu siswa juga belajar dampaknya terhadap kehidupan masyarakat. Jadi antara IPA dan IPS saling berhubungan,” terangnya.

Menurut Deni, konsep pembelajaran tersebut membuat siswa lebih mudah memahami materi karena tidak hanya terpaku pada teori di buku, tetapi juga dikaitkan langsung dengan kondisi kehidupan sehari-hari.

Ia menyebutkan, sistem pembelajaran saat ini juga mengarah pada metode deep learning atau pembelajaran mendalam sesuai penerapan Kurikulum Merdeka. Siswa tidak hanya dituntut menghafal, tetapi memahami inti pembelajaran secara lebih luas.

“Sekarang pembelajaran tidak hanya fokus kepada buku saja. Kita mengikuti kurikulum yang berlaku yaitu Kurikulum Merdeka dengan pendekatan deep learning,” jelasnya.

Di akhir wawancara, Deni berharap seluruh guru dapat menjalankan tugas dan tanggung jawab secara profesional, termasuk dalam memberikan penilaian kepada peserta didik.

Ia meminta guru memberikan nilai berdasarkan kemampuan siswa melalui proses penilaian yang benar, mulai dari pengamatan harian, ujian praktik hingga hasil ujian tertulis.

“Harapan saya kepada guru-guru, laksanakan tugas sesuai tanggung jawab. Berikan nilai kepada siswa sesuai kemampuan dan jangan pilih kasih,” pesannya.

Deni juga mengingatkan seluruh siswa agar mengerjakan soal ujian dengan sungguh-sungguh, teliti dan tidak terburu-buru.

“Anak-anak harus teliti dalam menjawab. Kadang guru sudah membuat soal berhari-hari, tapi ada siswa yang menjawab lima menit langsung selesai. Jadi harus benar-benar dibaca dan diperiksa kembali,” ujarnya.

“Guru juga dalam memberikan nilai harus mengikuti prosedur yang benar. Nilai diberikan berdasarkan pengamatan, kemampuan siswa dan hasil objektif, bukan asal memberikan nilai saja,” tutupnya. (KP).

Toggle Dark Mode